Wednesday, 7 December 2016

Festival Crossborder Digelar Di Merauke Reviewed by Bernard Agapa Date December 07, 2016 Rating: 3

Festival Crossborder Digelar Di Merauke

Festival Crossborder (Ist, TJ)

Untuk meningkatkan kunjungan turis di wilayah perbatasan, Kemenpar kembali menggelar Festival Crossborder. Acara ini pun dihadiri ribuan pengunjung.


Pada akhir pekan lalu, Sabtu (3/11), Festival Crossborder atau dikenal juga sebagai Festival Wonderful Indonesia digelar di Lapangan Sota, Merauke, Papua. Dalam rilis Kemenpar kepada detikTravel, Senin (5/12/2016), gelaran ini berlangsung aman dan meriah.

"Masyarakat Sota bercampur dengan wisman yang berdatangan dari Papua Nugini terhibur dengan konser Wonderful Indonesia. Saya ingin, acara ini diteruskan dan rutin digelar, karena acara ini menghidupkan ekonomi masyarakat lokal," Konsulat Jendral Republik Indonesia di Papua Nugini, Abraham Lebalauw.

Lebih lanjut Abraham mengatakan, yang terpenting adalah, debut Crossborder untuk Papua Nugini sudah beberapa kali diadakan di Papua. Yang pertama di Skouw, Jayapura dan yang kedua di Sota, Merauke. Keduanya berbatasan dengan Papua Nugini.

"Yang terpenting itu adalah, di Papua Nugini sudah terdengar santer branding Wonderful Indonesia melalui kegiatan ini. Kalau ingat Indonesia, pasti ngomongnya Wonderful Indonesia Festival di perbatasan yang selalu heboh," kata Abraham.

Dalam perhelatan sabtu malam hingga dini hari Minggu, acara begitu meriah. Seluruh masyarakat Sota, Merauke berbaur dengan beberapa musisi yang mayoritas bergenre reggae. Group band yang berhasil menyihir pengunjung adalah Band Sandy Bethay, Blacksound, Dave Solution dan beberapa artis ibukota.

Mengapa musik reggae yang dipilih? Kepala Bidang Festival Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Asia Pasifik Kemenpar Adela Raung mengatakan bahwa mayoritas musik yang digandrungi oleh Papua Nugini adalah reggae.

"Genre-nya reggae, harus ada beat-nya. Mereka suka berdisko, lihat saja mereka langsung happy dan bergoyang,"ujar Adela.

Crossborder, imbuh Adela, merupakan wisata perbatasan yang relatif murah untuk dilakoni wisatawan mancanegara. Strategi yang akan dilakukan terkait pariwisata perbatasan adalah membuka penerbangan langsung ke beberapa daerah pariwisata yang banyak diminati.

"Kuncinya adalah musik, seni-budaya, dan kuliner ini untuk menggaet pasar negara tetangga. Apalagi mereka masuk ke Indonesia juga bebas visa kunjungan," kata Adela.

Adela berharap, Crossborder di Merauke untuk Papua Nugini ini bukanlah festival terakhir yang digenjot Kemenpar. "Semoga tahun depan di 2017 bisa berlanjut atau dengan skema yang lain dan semakin menarik," katanya.

Sekadar informasi, menurut data Dinas Pariwisata Papua, Juni tahun 2016 lalu pengunjung perbatasan rata-rata warga Papua Nugini, mencapai 1.300an orang yang melakukan wisata belanja. Agustus naik hingga 1.400an, lalu pada awal November 2016 hampir mencapai 1.400 orang.

Selama ini, masyarakat Papua Nugini ke Indonesia mayoritas keperluan jual beli atau bergerak di bidang ekonomi. Namun, keuntungan Indonesia memang sangat baik jika mereka membelanjakan uangnya di tanah air karena 1 Kina, mata uang Papua Nugini, sama dengan Rp 4 ribu.

"Jadi tahun depan, sudah bisa saya pastikan mereka membelanjakan uangnya untuk Pariwisata," ujar Abraham. (krn/krn)


EmoticonEmoticon